Ferdian's Diary - Senin, 30 Mei 2016. Pagi itu istriku mulai merasakan "mules" seperti pertanda akan melahirkan, tetapi mules yang dialaminya tidak berlangsung lama. Harap-harap cemas semakin membuatku resah dan tak sabar menanti hari kelahiran buah hati kami. Setiap pagi sejak memasuki usia kandungan ke 9 bulan, istriku rajin sekali berjalan kaki untuk memudahkan proses persalinan. Namun anehnya, tidak ada tanda-tanda ia akan melahirkan.
Melihat kondisi kandungan istriku yang sudah lewat dari tanggal perkiraan lahir, kami pun berencana untuk kontrol lagi ke klinik tempat biasa kami periksa. Malam itu dokter memeriksa kembali kandungan istriku. Ia mengatakan kalau air ketubannya sudah semakin habis, dan dokter pun menyarankan kami untuk segera mengambil tindakan SC alias Operasi Sesar. Namun kami belum 100% percaya dengan kata-kata dokter itu, karena dia memang dokter spesialis sesar pikir kami, untuk itu esok harinya Selasa, 31 Mei 2016, kami coba datang ke klinik lain untuk periksa lagi. Jika memang hasilnya sama, maka tidak ada jalan lain kecuali SC.
Tapi kali ini dugaan kami salah, dokter lain pun mengatakan hal yang sama, kami harus segera mengambil tindakan SC karena usia kandungan sudah semakin tua, bayinya sudah semakin besar dan air ketubannya sudah semakin habis. Dikhawatirkan terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa bayi dan istriku. Lalu kami pun menanyakan kapan jadwal untuk operasinya kepada dokter tersebut, tetapi jawaban dokter itu membuat kami kesal dan kecewa, dia mengatakan bahwa di RS Grha Permata Ibu untuk pengguna kartu BPJS harus menunggu 1-2 minggu untuk mendapatkan ruangan dan terpaksa harus membayar paket sendiri yang biayanya lumayan mahal. Padahal awalnya kami sangat senang dengan pelayanan dokter itu dibanding dengan dokter di klinik sebelumnya, tapi setelah kondisinya seperti ini, dokter tersebut seperti tidak mau membantu kami. Lalu untuk apa kami mendaftar BPJS kalau tidak digunakan? Keterlaluan. Mendengar hal itu, kami pun segera pulang untuk mendiskusikan masalah SC ini.
Sepulang dari klinik, kami sekeluarga berunding untuk mencari solusi dari masalah ini. Terpikir oleh istriku untuk memilih rumah sakit lain yang menerima pengguna kartu BPJS, melalui informasi temannya ia diberitahu untuk ke RS Bhayangkara Brimob. Menurut cerita temannya, saat itu dia juga dibawa ke RS Brimob dengan kartu BPJS yang baru saja dibuat. Tidak lama setelah proses pendaftaran, pihak rumah sakitpun segera menyiapkan ruang operasi untuk tindakan SC teman istriku dan ia mengatakan semua biayanya pun sudah ditanggung oleh BPJS. Mendengar cerita tersebut, kami pun sepakat untuk pergi ke RS Brimob.
Keesokan harinya, aku segera mengurus surat rujukan dari klinik ke RS Brimob dan bergegas membawa istriku dengan mobil milik tetangga kami langsung menuju RS Brimob. Setibanya disana, aku ditemani tanteku langsung melakukan pendaftaran peserta, semua persyaratan sudah kami persiapkan mulai dari copy KTP, KK, BPJS dan Surat Rujukan dari klinik langsung kami serahkan kepada petugas disana. Setelah selesai, kami pun menunggu untuk dipanggil. Sebelum tindakan SC, kami disuruh periksa ke Poli Kandungan terlebih dahulu, perawat pun memeriksa tensi dan berat badan istriku. Hampir 3 jam kami menunggu, dokter poli kandungan tak kunjung datang, menurut salah satu perawat bilang kalau dokternya sedang ada urusan. Akhirnya tepat jam 12 lewat, dokter pun datang, dan tak lama kemudian satu persatu pasien masuk ke ruangan.
Tiba giliran istriku dipanggil, segera aku menggandeng tangan istriku masuk ke ruangan Poli Kandungan dan bertemu dengan Dr. Syafril Sp.OG yang terlihat lebih meyakinkan dibanding dokter-dokter lain yang sudah memeriksa kandungan istriku selama ini. Dengan peralatan yang cukup canggih, Dr Syafril dibantu oleh perawatnya mulai memeriksa kandungan istriku. Aku melihat jelas bayi dalam kandungan istriku dilayar monitor yang terpasang di ruangan itu, dan dokter mengatakan beberapa hal, mulai dari jenis kelamin, kondisi tali pusar, air ketuban dan detak jantung bayi kami. Lalu ia menanyakan usia kandungan istriku, lalu aku pun menjawab sudah 40 minggu lewat 2 hari dan harus segera SC. Dokter pun mengatakan iya. Lalu kami menanyakan apakah bisa hari itu juga dilakukan tindakan SC? Dengan senyum dan bahasa yang enak didengar, Dr Syafril mengatakan bisa. Puji syukur aku panjatkan pada Allah, lega sekali rasanya saat mendengar hal itu. Kemudian dokter menyuruh perawat untuk menyiapkan ruangan operasi dan kami pun menunggu sambil mengurus semua persyaratannya.
Setelah semuanya siap, istriku dibawa masuk ke ruangan operasi. Aku menunggu diluar bersama ibu mertuaku dan tanteku. Jantungku mulai berdebar-debar membayangkan saat proses operasi yang tentu akan menghabiskan banyak darah. Aku sangat takut dan khawatir akan terjadi sesuatu pada istri dan bayiku. Hanya berdoa dan berzikir dalam hati yang bisa kulakukan, kupasrahkan semuanya hanya pada Allah. Aku memohon pertolongan-Nya untuk menyelamatkan istri dan bayiku sehingga ia dapat melewati operasi ini dengan lancar tanpa ada gangguan apapun. Hujan deras disertai angin membuat detik-detik saat operasi semakin membuatku gelisah, tapi aku berusaha untuk tetap tenang. Sesaat sebelum operasi dimulai, aku diperbolehkan masuk ke ruangan untuk menemani istriku disana. Dengan mengenakan sehelai kain operasi, istriku terlihat cukup tenang, dia pun bercerita tentang pasien lain yang sedang menjalani operasi dan mendapat giliran pertama. Senyum dan tawanya masih terlihat, dan aku pun cukup lega dibuatnya. Aku menyuruhnya untuk tetap tenang dan jangan berhenti berdoa.
Selesai sudah operasi pasien yang mendapat giliran pertama, kini giliran istriku untuk masuk ke ruangan khusus. Aku sudah tidak diperbolehkan menemaninya lagi, dan hanya bisa menunggu diluar bersama yang lain. Hampir setengah jam kami menunggu, hujan pun mulai reda dan suara adzan ashar terdengar dari luar rumah sakit. Aku tetap duduk dibangku ruang tunggu, tanpa berhenti berzikir dan jantungku masih terus berdebar-debar. Akhirnya... pintu ruangan operasi pun di buka, lalu seorang perawat memanggilku, segera aku berlari dan masuk. Tak lama kemudian, sebuah inkubator dibawa oleh perawat tadi dan ia mengatakan, "Selamat ya Pak, anaknya laki-laki. Beratnya 3,9kg dan panjangnya 51cm, lahir jam 15.24 tanggal 1-6-2016".
Subhanallah.... Tak dapat kupercaya, aku tak bisa berkata apa-apa, ini saat pertama kalinya aku melihat darah dagingku ada di depan mataku, kini aku telah menjadi seorang ayah... Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas anugerah-Mu, terimakasih atas karunia yang Kau berikan padaku. Sungguh hatiku tak bisa kujelaskan seperti rasanya, bahagia, haru, semuanya bercampur saat itu. Kemudian aku mengadzani bayiku dan air mataku terjatuh sesaat aku selesai adzan. Ibu mertuaku pun masuk, dia terlihat sangat bahagia, tangis haru melihat cucu pertamanya telah lahir.
Subhanallah.... Tak dapat kupercaya, aku tak bisa berkata apa-apa, ini saat pertama kalinya aku melihat darah dagingku ada di depan mataku, kini aku telah menjadi seorang ayah... Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas anugerah-Mu, terimakasih atas karunia yang Kau berikan padaku. Sungguh hatiku tak bisa kujelaskan seperti rasanya, bahagia, haru, semuanya bercampur saat itu. Kemudian aku mengadzani bayiku dan air mataku terjatuh sesaat aku selesai adzan. Ibu mertuaku pun masuk, dia terlihat sangat bahagia, tangis haru melihat cucu pertamanya telah lahir.
Beberapa lama kemudian, istriku keluar dari ruangan operasi, dengan tubuh yang sangat dingin, ia menggigil kedinginan, langsung saja kututupi tubuhnya dengan beberapa kain dan selimut yang kami bawa. Ku kecup keningnya dan kugenggam tangannya yang dingin. "Makasih sayang, anak kita sudah lahir." Aku berbisik padanya sambil terus berusaha menghangatkan tubuhnya. Cukup lama kami menunggu di ruangan itu untuk pindah ke ruang rawat inap, sudah hampir magrib akhirnya petugas datang membawa istriku ke ruangan. Ah, lega sekali rasanya, semuanya berjalan dengan lancar, anak dan istriku selamat. Kabar gembira ini segera kusampaikan pada ibu dan keluargaku di kampung. Kemudian kami memberikan nama bayi pertama kami, Muhammad Farel Ferdian.
Terimakasih untuk Allah SWT, BPJS Kesehatan, RS Bhayangkara Brimob, Dr Syarfil Sp. OG dan Para Perawat yang sudah menyelamatkan Malaikat Kecil dan Bidadariku.
Depok, 1-6-16
EmoticonEmoticon